RENUNGAN HARIAN KATOLIK (MINGGU, 4 OKTOBER 2026)



RENUNGAN HARIAN KATOLIK

MINGGU, 4 OKTOBER 2026

Hari Minggu biasa XXVII

Yes. 5:1-7; Mzm. 80:9,12,13-14,15-16,19-20; Flp. 4:6-9; Mat. 21:33-43.

BcO Sir 1:1-20

Warna Liturgi Hijau

Renungan

Pemilik tanah dalam Injil hari ini melambangkan Allah, penggarap melambangkan kita—manusia—dan tanah atau kebun anggur melambangkan Kerajaan Allah. Sama seperti pemilik tanah menyediakan segala sesuatu agar kebun anggur itu tumbuh subur, Allah telah memberi kita semua yang kita butuhkan, yakni ajaran-Nya, Roh-Nya, dan kasih karunia-Nya berupa talenta-talenta dan kelimpahan materi (uang, barang, orang). Dalam Bacaan Kedua, Paulus menegaskan bahwa segala hal baik memang telah diberikan oleh Allah kepada manusia. Dengan segala hal yang telah Tuhan berikan kepada kita itu, sebenarnya Ia berharap kita menjadi pengurus yang setia atas "tanah pinjaman-Nya".

Para penggarap dalam perumpamaan Yesus menolak untuk mengakui otoritas sang pemilik. Sebaiknya kita tidak demikian; kita seharusnya mengakui bahwa semua yang kita miliki adalah milik Allah, yakni berasal dari-Nya, dan oleh karena itu harus dipersembahkan kembali kepada-Nya. Kita semua dipercaya oleh Tuhan untuk memiliki dan mengembangkan "tanah" atau "kebun anggur" kita masing-masing yang berupa bakat menyanyi, bermusik, bersosialisasi, dan berbagai bidang keahlian spesifik lainnya. Jika suatu saat nanti kita diminta oleh Tuhan untuk berbagi (mengembalikan) hasil "garapan tanah" itu, maukah kita mengembalikannya kepada Tuhan?

Melalui kesediaan kita terlibat aktif dalam pelayanan di tengah masyarakat atau di dalam berbagai aktivitas sosial-pastoral di gereja, sesungguhnya kita telah berusaha menjadi penggarap kebun anggur yang baik, karena kita tidak mengabaikan atau menyimpan bakat-bakat dari Tuhan itu untuk diri sendiri. Marilah kita berusaha menyuburkan tanah atau mengembangkan berbagai potensi yang ada dalam diri kita demi kebaikan sesama. Janganlah kita hanya terus menghasilkan "anggur yang asam", seperti yang digambarkan dalam Bacaan Pertama.

Dari kisah ini, kita juga dapat belajar bahwa Allah itu Maha Sabar, tetapi ada konsekuensi atas penolakan manusia terhadap-Nya. Meskipun para penggarap memberontak untuk mengakui siapa yang mempunyai tanah itu, pemilik tanah masih sabar. Ia mau bernegosiasi baik-baik dengan mengirim banyak hamba, yang melambangkan para nabi Allah sepanjang sejarah. Berkali-kali, Allah mengulurkan tangan kepada umat-Nya, tetapi mereka mengabaikan para utusan-Nya. Akhirnya, Ia mengirim Anak-Nya, Yesus, yang juga mereka tolak. Kesabaran Allah itu tidak terbatas. Namun, ketika orang terus-menerus berpaling dari-Nya bahkan secara keji membunuh para utusan Allah, mereka pun menghadapi konsekuensi dari pilihan mereka sendiri. Yesus memperingatkan bahwa kerajaan itu akan diambil dari mereka yang menolak-Nya dan dialihkan kepada orang lain yang dapat menghasilkan buahnya. Jadi, mereka yang menolak Allah dan para utusan-Nya tidak akan memperoleh buah-buah keselamatan, tidak memiliki tanah terjanji, tak berhak tinggal di Kerajaan-Nya.

Maka, agar tetap dapat memperoleh keselamatan, marilah kita memahami apa yang Yesus katakan, "Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru." Meskipun ditolak atau dibuang oleh manusia, Yesus tetap merupakan dasar yang kukuh bagi iman kita. Kita yang percaya kepada-Nya akan berdiri teguh dan memiliki petunjuk arah yang pasti menuju surga, tetapi mereka yang menolak-Nya akan tersandung dan tersesat. Apakah kita sudah membangun keputusan, tindakan, dan tujuan kita di atas Dia, yang merupakan batu penjuru kehidupan kita?

Tuhan, sadarkanlah kami senantiasa bahwa hanya ketika Engkau menjadi dasar hidup kami, kami dapat berbuah subur. Semoga kami senantiasa menjadikan Engkau sebagai batu penjuru hidup kami dan dapat terus berkarya membuahkan kebaikan meskipun mengalami penolakan. Amin.

0 Response to "RENUNGAN HARIAN KATOLIK (MINGGU, 4 OKTOBER 2026)"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel